DurfMSu0Qxmk2O77Srei8VZ6q4jtkNf1l2GZimEB

Saat Hancur pun, Aku Disayang

Terima Kasih Ibu

Apakah kalian juga sama denganku? Merasa canggung dengan sesuatu yang sudah jelas setiap saat itu untuk kita dan setiap saat bisa kita rasakan. Aku sering merasa begitu, merasa canggung dengan cinta yang selalu diberikan Ibuku. 

Rasa canggung itu mulai aku sadari, ketika aku mulai beranjak dewasa. Mungkin karena itu, keadaan selalu menjadi sangat sulit. Begitu banyak kisah perjalanan yang menghantam hidupku yang datang satu persatu tanpa jeda. Ketika pikiran sudah buntu, seketika aku selalu teringat Ibuku, dimana rasa tenang dan nyaman bisa aku temukan secara instan.

Aku selalu menyembunyikan segala permasalahan. Karena aku yakin dan harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Perjalan hidup memang terang redup, tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana. Namun, selalu ada hal yang bisa diambil hikmahnya dari setiap perjalanan.

Tetapi suatu ketika, Ibu tak sengaja melihatku tampak tidak baik-baik saja. Tiba-tiba terdengar suara pelan yang mengajukan sebuah pertanyaan “Kenapa nak?”. Pertanyan singkat itu membuatku meneteskan air mata dan seketika aku merasa lebih tenang saat Ibu mulai mengelus rambutku.

Saat menatap wajahnya yang sudah tak lagi muda, terlintas pertanyaan dalam benakku tentang apa saja yang telah dilalui oleh Ibu di dalam perjalanan hidupnya. Ingin aku mengatakan sesuatu, tapi tertahan oleh elusan dan senyumannya yang begitu menenangkan.

Pertanyaannya tadi belum aku jawab. Aku hanya mengatakan bahwa aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ketika Ibu menanyakan pertanyaan yang sama, aku juga menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Karena aku masih yakin bisa mengatasinya sendiri.

Perlahan kehidupanku sehari-hari mulai terasa lunak. Aku sangat bahagia saat itu, sesuatu dan seseorang membuatku lebih bergairah dalam menjalani hidup. Tapi, disaat bersamaan aku juga merasa cemas. Laut selalu tampak tenang sebelum badai hebat menerjang.

Setelah beberapa hari berlalu, badai itu benar-benar datang. Terjangannya benar-benar kuat hingga menghancurkan semuanya. Segala yang aku punya dan yang aku raih dengan tanganku sendiri telah dihanyutkannya. Hilang. Aku kehilangan semuanya.

Dalam kehancuran itu pun aku masih saja serakah. Aku masih ingin mempertahankan semuanya dengan cara apapun. Karena disana ada hal yang kutemukan dan ku anggap sebagai cahaya dalam hidupku.

Semakin aku mencoba mempertahankan, semakin aku dihancurkan. Bagiku cahaya itu terlalu terang, hingga akhirnya membuatku buta, sampai-sampai tidak menyadari bahwa semuanya sudah berakhir.

Berhari-hari rasanya seperti menunggu kehancuran berikutnya. Hingga suatu ketika terlintas pikiran yang sama lagi mengenai Ibuku, tentang apa saja yang telah terjadi dalam hidupnya dan bagaimana Ibu melewatinya.

Saat Hancur pun, Aku Disayang

Kali ini aku yang menghampiri Ibu. Aku memeluknya dengan tiba-tiba dan pertanyaan yang sama terdengar lagi darinya “Kenapa nak?”, aku tersenyum sambil menunduk dengan mata sedikit berkaca-kaca. Kali ini aku akan menjawab pertanyaan itu dengan jujur.

Dengan menghela nafas panjang berkali-kali, aku mulai menceritakan tentang semuanya yang sedang aku alami saat itu. Segalanya aku curahkan tanpa terkecuali kepada Ibu. Sesaat setelah bercerita, aku mulai lega dan pikiranku mulai terasa tenang. Tetapi dalam sekejap aku kembali merasa dihantam setelah melihat Ibuku meneteskan air matanya karenaku.

Aku telah melakukan kesalahan dalam mempertahankan sesuatu yang aku anggap cahaya dalam hidupku. Emosi telah mengalahkan logikaku, hingga akhirnya badai yang besar menerjang dengan hebat.

Aku sudah siap dengan segala amarah yang mungkin akan aku terima dari Ibu. Aku benar-benar sudah siap dan sepenuhnya menyadari bahwa aku salah. Memang perkataan Ibu sedikit tajam di awal, tetapi perkataan selanjutnya begitu menenangkan. Seketika aku lupa akan masalahku. Sambil menatap mata Ibu, aku meminta maaf dan berterima kasih.

Begitu mudahnya mencari ketenangan jika disamping Ibu. Saat kondisi hancur pun aku masih disayang olehnya, apalagi saat aku bisa menjadi juara. Betapa nikmatnya kasih sayang yang diberikan untuk anaknya.

Ibu adalah sosok perempuan hebat dalam hidupku. Bagiku, tidak akan pernah ada perempuan lain yang bisa mengalahkannya.

Aku teringat saat Ibu mengajakku lari pagi. Ditengah perjalanan Ibu selalu tertinggal sedikit jauh dariku karena memilih untuk berjalan setelah berlari beberapa meter. Saat kembali, aku melihat Ibu sudah lebih dulu sampai dan meluruskan kakinya di teras rumah. Aku senang karena Ibu tampak lebih sehat dan segar setelah berolahraga.

Tiba-tiba terlintas tentang hadiah yang ingin aku berikan kepada Ibu, yaitu sepatu. Mungkin terdengar sangat sederhana, tetapi setidaknya “surgaku” tidak akan tergores ketika Ibu berlari.

Ibu, kasih sayangmu begitu hangat. Kecantikan dan senyumanmu selalu menenangkan. Semoga Ibu sehat selalu.

Ibu, perkataanmu waktu itu sungguh menenangkan, dan perlahan aku mulai bisa melewati guncangan badai itu. Kalimat itu sungguh menguatkanku. Sekarang, aku sudah tidak canggung lagi dengan cinta yang engkau berikan.

Selamat hari Ibu. Terimakasih sudah menjadi Ibuku. Aku mencintaimu, Ibu.

Wes le, seng uwes yo uwes. Saiki kudu iso berubah, buktikno lak awakmu iso. Mamae karo Papae bakal terus ndukung dalanmu. Seng penting tenanan, ojo grusa-grusu. Di tenangne sek atine, kabeh bakal enek balesane. Wes, ora popo!
Ibuku

Terjemahan perkataan Ibu:
Sudah nak, yang sudah ya sudah. Sekarang harus bisa berubah, buktikan kalau kamu itu bisa. Mama dan Papa akan terus mendukungmu. Yang penting sungguh-sungguh, jangan tergesa-gesa. Tenangkan dulu hatimu, semua akan ada balasannya. Sudah, tidak apa-apa!
Ibuku
Baca Juga Yuk!

2 komentar

Hi! Jangan lupa tinggalkan komentar relevan 👌